Di Atas Luka yang Tak Tampak
"Raga Wiratmaja bukan siapa-siapa—anak sopir angkot, lulusan pas-pasan, hidup dari bengkel kecil yang hampir bangkrut. Hidupnya berubah ketika sebuah kasus hukum menjerat sahabatnya, dan Raga dipaksa turun tangan meski bukan pengacara. Ia mulai belajar, bertanya, membaca, dan diam-diam mencari guru spiritual yang dulu pernah menolong ayahnya.Setiap jejak menuju kebenaran justru membuka luka lama:tentang ibunya yang hilang karena fitnah, sahabat yang berubah menjadi musuh, dan wanita yang ia cintai tapi kini berdiri di pihak lawan.Ketika kebenaran hampir terbuka, Raga mulai diteror oleh mimpi-mimpi aneh; suara perempuan yang memanggil dari masa lalu, lelaki tua berjubah hitam di persimpangan, dan bayangan ibunya yang seolah masih hidup. Apakah itu petunjuk… atau peringatan?Di tengah kekacauan hukum, konspirasi tanah, dan tekanan orang berkuasa, Raga menemukan satu hal yang tidak bisa dibeli oleh siapapun:Harga diri seorang manusia.Untuk pertama kalinya, ia memutuskan untuk melawan.Bukan demi menang… tapi demi layak berdiri.Dan di sanalah takdirnya berubah.Kadang, kemenangan bukan ketika kita menghajar dunia…tetapi ketika kita berhenti berlari dari diri sendiri.Novel ini akan menjadi perjalanan tentang kemiskinan yang membentuk, cinta yang melukai, hukum yang tidak adil, dan bisikan spiritual yang menuntun."
SANG PENDIAM
"Ia tidak banyak bicara.Bukan karena tak punya suara,tapi karena dunia terlalu sering salah mendengar.Sang Pendiam adalah kisah tentang seorang lelaki biasa yang hidup di pinggir keramaian. Ia bekerja, pulang, makan, lalu tidur. Hari-harinya berjalan pelan, sunyi, nyaris tak meninggalkan jejak. Di mata orang lain, ia hanyalah pria pendiam yang mudah diabaikan—tidak menonjol, tidak berisik, tidak berbahaya.Namun di balik diamnya, ada masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi. Ada luka yang dipendam, harga diri yang dijaga, dan prinsip hidup yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata. Ia tidak mencari masalah. Tapi hidup, seperti biasa, tidak peduli pada pilihan seseorang.Ketika tekanan datang dari lingkungan, pekerjaan, dan orang-orang yang merasa berhak meremehkan, batas itu perlahan terkikis. Dan saat garis terakhir terlewati, diam bukan lagi pilihan—melainkan keputusan untuk bertindak.Action dalam cerita ini tidak hadir sebagai pamer kekuatan, melainkan sebagai bentuk perlawanan yang jujur dan dingin. Setiap pukulan memiliki alasan. Setiap keputusan membawa konsekuensi. Tidak ada heroisme berlebihan—yang ada hanya manusia yang bertahan dengan caranya sendiri.Sang Pendiam adalah novel slice of life dengan denyut action realistis, tentang kesunyian yang menekan, kehidupan yang keras, dan seorang lelaki yang membuktikan bahwa diam bukan berarti lemah—kadang itu adalah bentuk kekuatan paling berbahaya."
Nano Mashin
"Setelah mengalami cobaan berat pada hidupnya, Tiba tiba Chun yeowun mendapatkan pertolongan tidak terduga dari keturunannya di masa depan yang memasukkan teknologi nano ke dalam tubuhnya! Mampukah Chun Yeowun menjadi master bela diri dengan menggunakan kekuatan nano mashin!?"
Dunia Tanpa Takdir
"Sejak awal penciptaan, dunia tidak pernah bebas.Yang disebut takdir bukanlah kehendak alam, melainkan aturan yang ditulis para Dewa agar manusia tetap kecil, patuh, dan mudah dikorbankan.Dunia Ardhavara berjalan di bawah Kitab Takdir—sebuah hukum absolut yang menentukan siapa yang lahir sebagai raja, siapa yang mati sebagai budak, dan siapa yang bahkan tak pantas dikenang. Takdir menjaga dunia tetap “seimbang”, namun keseimbangan itu dibangun di atas penderitaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.Hingga suatu hari, lahir seorang anak yang tidak tercatat dalam kitab mana pun.Ia bernama Aksara, pemuda dari Tanah Abu—wilayah terbuang tempat manusia hidup tanpa doa dan mati tanpa nama. Sejak kecil, Aksara dihantui mimpi tentang dunia tanpa langit, tanpa suara Dewa, dan tanpa garis takdir. Mimpi itu bukan ramalan… melainkan ingatan dari masa depan yang belum terjadi.Ketika sebuah segel kuno runtuh dan para Dewa turun tangan untuk menghapus kesalahan mereka sendiri, Aksara terbangun sebagai anomali: manusia pertama yang mampu melihat dan merobek takdir. Bukan dengan sihir, bukan dengan doa—melainkan dengan kehendak murni yang menolak tunduk.Kebangkitannya mengguncang Ardhavara.Para Dewa ketakutan.Para penjaga takdir ragu.Manusia mulai bertanya: jika takdir bisa dihancurkan, siapa yang harus bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri?Dalam perjalanannya, Aksara bertemu mereka yang juga patah oleh dunia:seorang penjaga Kitab Takdir yang menyadari seluruh hidupnya adalah kebohongan,makhluk terkutuk yang diciptakan untuk membenci manusia namun justru memilih melindungi,dan saksi tua yang tahu bahwa kebebasan selalu menuntut harga yang kejam.Semakin dekat Aksara pada kebenaran, semakin jelas satu kenyataan pahit:Dunia tanpa takdir bukanlah dunia yang damai.Itu adalah dunia tanpa jaminan, tanpa janji keselamatan, tanpa surga di akhir penderitaan.Di titik akhir, Aksara harus membuat pilihan yang tak bisa ditarik kembali:memulihkan takdir demi ketertiban semu,atau menghancurkannya dan menyerahkan dunia pada tangan manusia—dengan segala kesalahan, kekejaman, dan kebebasan yang menyertainya.Karena kebebasan sejati bukan tentang hidup tanpa aturan,melainkan berani hidup tanpa alasan yang ditulis orang lain.Dan ketika takdir mati,manusia harus belajar menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri."
Mahkota Tanpa Taring
"Di dunia Rimba Ardhana, hewan-hewan hidup seperti kerajaan manusia. Mereka berbicara, berpolitik, berperang, dan bermimpi. Hukum alam masih berlaku—yang kuat berkuasa—namun ada satu legenda yang selalu dibisikkan dari generasi ke generasi:raja sejati bukan yang bertaring paling tajam, tapi yang mampu menahan diri untuk tidak menggunakannya.Kisah ini mengikuti Aru, seekor rusa muda tanpa tanduk sempurna, terlahir di tengah dunia yang memuja kekuatan. Ketika Mahkota Rimba—simbol keseimbangan seluruh dunia—retak, para pemangsa melihatnya sebagai kesempatan untuk menguasai segalanya. Serigala membentuk aliansi, elang menguasai langit, dan singa menuntut takhta dengan darah.Tanpa disengaja, Aru menjadi pembawa mahkota yang rusak. Ia tidak memiliki taring, cakar, atau sayap. Yang ia miliki hanyalah ingatan tentang hutan lama—tentang saat para hewan hidup bukan karena takut, tapi karena saling menjaga.Dalam perjalanannya melintasi padang beracun, hutan terlarang, dan kota batu para beruang, Aru dihadapkan pada satu pertanyaan yang akan menentukan nasib Rimba Ardhana:apakah dunia bisa diselamatkan tanpa perang, atau keseimbangan memang harus dibayar dengan kehancuran?Di dunia tempat naluri adalah hukum,seekor hewan lemah akan mengajarkan arti kekuatan yang sesungguhnya."
Baru Dirilis
Sarjana Salah Jurusan
Komedi
JAILANGKUNG
Horor
Thalassya: Takhta di Kedalaman Abadi
Fantasi
Mahkota Tanpa Taring
Fantasi
Kami Pernah Bermimpi
Drama Perjuangan
Nano Mashin
Komik
Keep A Low Profile, Sect Leader
Komik
Malam Jumat Kliwon
Horor
Hidup Tidak Pernah Menunggu Kami
Drama Perjuangan
Kita Pernah, Tapi Tak Pernah Benar-Benar
Romantis
Malam Tidak Pernah Benar-Benar Pagi
Horor
Dunia Tanpa Takdir
Fantasi
SANG PENDIAM
slice of life
Di Atas Luka yang Tak Tampak
Drama Perjuangan
Paling Viral
Trending Stories of the Week
Di Atas Luka yang Tak Tampak
SANG PENDIAM
Nano Mashin
Dunia Tanpa Takdir
Mahkota Tanpa Taring
Sarjana Salah Jurusan
Malam Tidak Pernah Benar-Benar Pagi
Kita Pernah, Tapi Tak Pernah Benar-Benar
Kami Pernah Bermimpi