Hidup Tidak Pernah Menunggu Kami
Sinopsis Cerita
Tidak semua orang punya waktu untuk bermimpi.
Sebagian orang harus tumbuh lebih cepat karena hidup terus berjalan tanpa peduli siapa yang tertinggal.
Arman adalah salah satunya.
Ia kehilangan ayahnya di tempat kerja, bukan di rumah. Sejak hari itu, hidup berubah menjadi rangkaian kewajiban yang tidak pernah menunggu kesiapannya: menghidupi keluarga, menekan mimpi sendiri, dan belajar tersenyum di tengah kelelahan yang tak terlihat. Surat penerimaan kuliah yang seharusnya menjadi awal masa depan justru menjadi pengingat bahwa harapan bisa mati tanpa pernah sempat hidup.
Merantau ke Jakarta bukan pilihan berani—itu adalah satu-satunya jalan yang tersisa. Di kota yang berdiri di atas keringat orang-orang tak bernama, Arman menjalani hidup dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan lain, menyaksikan bagaimana mimpi orang-orang kecil dikalahkan oleh sistem, oleh uang, dan oleh waktu yang tidak pernah memberi jeda.
Di sana, Arman bertemu mereka yang sama-sama terluka:
orang-orang yang bertahan bukan karena kuat, tapi karena menyerah berarti kehilangan segalanya.
Namun perjuangan tidak selalu tentang melawan dunia. Kadang, perjuangan adalah melawan diri sendiri—rasa bersalah pada keluarga, ketakutan akan kegagalan, dan godaan untuk mengambil jalan pintas yang mengorbankan nilai hidupnya. Saat kesempatan datang dengan harga yang tidak bermoral, Arman dipaksa bertanya pada dirinya sendiri: apa arti sukses jika harus kehilangan siapa diri kita sebenarnya?
Hidup Tidak Pernah Menunggu Kami adalah kisah tentang mereka yang berjalan tertatih di belakang arus kehidupan, namun tetap melangkah meski tahu dunia tidak akan berhenti untuk mereka. Sebuah cerita tentang perjuangan yang sunyi, tentang kalah yang berulang, dan tentang keberanian untuk tetap hidup—bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai manusia yang tidak berhenti berusaha.
Karena bagi sebagian orang,
bertahan satu hari lagi saja
adalah bentuk keberanian paling jujur.