Cover
Fantasi

Penilaian Pembaca

0
0 Review

Dunia Tanpa Takdir

22 Dibaca
1 Bab
Jan 2026

Sinopsis Cerita

Sejak awal penciptaan, dunia tidak pernah bebas.

Yang disebut takdir bukanlah kehendak alam, melainkan aturan yang ditulis para Dewa agar manusia tetap kecil, patuh, dan mudah dikorbankan.


Dunia Ardhavara berjalan di bawah Kitab Takdir—sebuah hukum absolut yang menentukan siapa yang lahir sebagai raja, siapa yang mati sebagai budak, dan siapa yang bahkan tak pantas dikenang. Takdir menjaga dunia tetap “seimbang”, namun keseimbangan itu dibangun di atas penderitaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Hingga suatu hari, lahir seorang anak yang tidak tercatat dalam kitab mana pun.


Ia bernama Aksara, pemuda dari Tanah Abu—wilayah terbuang tempat manusia hidup tanpa doa dan mati tanpa nama. Sejak kecil, Aksara dihantui mimpi tentang dunia tanpa langit, tanpa suara Dewa, dan tanpa garis takdir. Mimpi itu bukan ramalan… melainkan ingatan dari masa depan yang belum terjadi.


Ketika sebuah segel kuno runtuh dan para Dewa turun tangan untuk menghapus kesalahan mereka sendiri, Aksara terbangun sebagai anomali: manusia pertama yang mampu melihat dan merobek takdir. Bukan dengan sihir, bukan dengan doa—melainkan dengan kehendak murni yang menolak tunduk.


Kebangkitannya mengguncang Ardhavara.

Para Dewa ketakutan.

Para penjaga takdir ragu.

Manusia mulai bertanya: jika takdir bisa dihancurkan, siapa yang harus bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri?


Dalam perjalanannya, Aksara bertemu mereka yang juga patah oleh dunia:


  • seorang penjaga Kitab Takdir yang menyadari seluruh hidupnya adalah kebohongan,
  • makhluk terkutuk yang diciptakan untuk membenci manusia namun justru memilih melindungi,
  • dan saksi tua yang tahu bahwa kebebasan selalu menuntut harga yang kejam.


Semakin dekat Aksara pada kebenaran, semakin jelas satu kenyataan pahit:

Dunia tanpa takdir bukanlah dunia yang damai.


Itu adalah dunia tanpa jaminan, tanpa janji keselamatan, tanpa surga di akhir penderitaan.


Di titik akhir, Aksara harus membuat pilihan yang tak bisa ditarik kembali:

memulihkan takdir demi ketertiban semu,

atau menghancurkannya dan menyerahkan dunia pada tangan manusia—dengan segala kesalahan, kekejaman, dan kebebasan yang menyertainya.


Karena kebebasan sejati bukan tentang hidup tanpa aturan,

melainkan berani hidup tanpa alasan yang ditulis orang lain.


Dan ketika takdir mati,

manusia harus belajar menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar di sini.